Stok Darah Selalu Kosong, DPRD Pertanyakan Anggaran UTD

oleh -1 views

Reporter : Eli

PLANO, Parigi Moutong – Komisi IV DPRD mempertanyakan anggaran belanja darah yang disiapkan RSUD Anutaloko setiap tahun, sebab kondisi yang terjadi dilapangan masyarakat selalu diperhadapkan dengan kekosongan darah di Unit Transfusi Darah (UTD).

H. Wardi anggota komisi IV mengatakan, RSUD Anutaloko sebaiknya meminimalisir persoalan darah di tahun 2020. Sebab selama ini, masyarakat selalu diarahkan untuk mencari sendiri darah untuk pasien (keluarga).

“Selalu dijawab kosong, jadi keluarga pasien yang notabene sudah tertimpa musibah disibukkan lagi dengan urusan mencari darah. Itu anggaran darah yang katanya ada untuk menyediakan stok darah dari provinsi, tolong jelaskan biar kami ini paham kemana itu,?” Tanya Awe, sapaan akrabnya.

Terkait itu, Darlin Kabid Yanmed pada RSUD Anutaloko menjawab, pada dasarnya UTD Parigi Moutong perlu didukung unit lain seperti PMI dan Dinas Kesehatan. Sebab kata dia, darah tidak sama dengan obat yang bisa dibeli oleh pihak RSUD.  Perlu ada kesadaran kolektif yang dibangun dan itu membutuhkan upaya sosialisasi yang intens. Itulah sebabnya kata dia, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

“Kami siapkan Rp 300 juta sejak 2017. Ada stok tetapi biasanya dokter butuh darah segar. Jadi keluarga diminta untuk ikut mencari. Untuk membangun kesadaran mendonor itu kami harus dibantu unit lain,” ujar  Darlin saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan komisi IV di gedung DPRD belum lama ini.

Menurut Darlin pihaknya sudah berupaya untuk tetap menyediakan stok darah di UTD namun permintaan per hari tidak dapat diprediksi. Ditambahkannya, ada mobil UTD yang mobile untuk memenuhi kecukupan darah yang biasanya digunakan saat ada kegiatan donor keliling. Selain itu, untuk menjaga pasien rentan seperti ibu melahirkan  nomor gawai kepala UTD sudah dibagikan ke puskesmas untuk mengantisipasi kebutuhan darah pasien rujukan.

“Nomor Hp kepala UTD sudah di share untuk menginformasikan pasien darah apa yang sementara di rujuk,  itu solusi. H-10 keluarga pasien diharapkan sudah datang memeriksakan golongan darah ke Puskesmas, kami sudah MOU ini untuk puskesmas yang dekat,” jelasnya.

Menanggapi itu Awe juga mempertanyakan, donor darah sukarela tetapi RSUD harus mengeluarkan anggaran untuk mendatangkan darah ke UTD.

Terkait itu, Darlin menepis isu RSUD Anutaloko membeli darah di PMI Provinsi. Menurutnya Rp 360 ribu / kantong darah itu bukan untuk membeli darahnya tetapi kantongnya yang dibayar.  

Awe meminta agar anggaran itu, jika tidak melanggar aturan bisa dikerjasamakan dengan komunitas atau organisasi untuk membuat kegiatan sosial yang didalamnya ada aksi donor darah sukarela.

“Kita bisa punya stok darah segar kalau rutin dilakukan, saya rasa banyak komunitas yang mau bantu, bisa tidak kita lakukan seperti itu?. Saya ini duduk sebagai anggota DPRD salah satunya karena jadi relawan darah, saya konsen terhadap kebutuhan urgen ini,” ungkapnya.

Sementara itu, ketua Komisi IV Fery Budi Utomo menambahkan, jika benar-benar sangat kekurangan dan dibutuhkan darah segar setiap hari maka pihak RSUD bisa mengimbau pegawai untuk donor tiga bulan sekali.

“Ini bisa jadi solusi, jika pihak RSUD mau terima untuk dipertimbangkan,” kata Fery.  

Fery juga mengimbau, agar layanan UTD menyiapkan makanan pengganti yang lebih layak dan bergizi bagi yang rela mendonor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *