Pakar Sebut Pemerintah Gagal Paham Soal Penghapusan Pasal Penghinaan Presiden.

oleh -

Berita Nasional. Muhammad Tanziel Aziezi Peneliti Lembaga Kajian dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP), menganggap pemerintah gagal memahami maksud penghapusan pasal penghinaan Presiden oleh putusan Mahkamah Konsitusi (MK). Ia menyayangkan pasal serupa masih diajukan dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP).

Seeperti yang dilansir dari Republika.com, Pria yang diakrab siapa Azhe itu mengakui pengaturan pasal penghinaan presiden dalam RKUHP berbeda dengan aturan di KUHP yang sudah dinyatakan inkonstitusional oleh MK. Penekanannya adalah mengubah pasal tersebut menjadi delik aduan yang mensyaratkan adanya laporan hanya dari presiden dan wakil presiden untuk bisa diproses hukum.

Azhe juga menyindir pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) tidak menangkap maksud penghapusan pasal tersebut oleh MK. Ia menekankan MK menghapus pasal tersebut bukan karena bentuknya adalah delik laporan, sehingga bisa diselesaikan dengan mengubah menjadi delik aduan.

“Tapi, karena sudah tidak relevan dengan demokrasi yang saat ini diterapkan Indonesia di mana kritik harus diperbolehkan sebagai bagian kebebasan berekspresi, termasuk kepada pejabat publik atau pemerintahan,” tegas Azhe.

Azhe menegaskan pendapatnya dengan paragraf 38 Komentar Umum No. 34 ICCPR di mana pejabat publik adalah objek yang sah untuk dikritik dalam jabatannya dan orang tidak boleh dipidana karena melakukan kritik tersebut. Komentar umum No. 34 ICCPR adalah tafsir atau penjelasan otoritatif dari Badan HAM PBB terhadap Pasal 19 ICCPR tentang Hak Atas Kebebasan Berekspresi

“Perlu diingat bahwa kita sudah meratifikasi ICCPR dengan UU No. 12 Tahun 2005, sehingga ICCPR sudah menjadi aturan yang sah berlaku di Indonesia dan aturan-aturan dalam komentar umum ICCPR di atas mengikat pula bagi Indonesia,” ujar Azhe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.