Menurun, Data September 2020 Stunting di Parigi Moutong 3.868 Orang

oleh -
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Parigi Moutong, Asmarafia S.Si, Apt (Foto : Fara)

Laporan : Faradiba

Beritaplano, Parigi Moutong – Jumlah anak kerdil (stunting) atau kondisi pertumbuhan yang terhambat dalam masa perkembangan manusia, pada anak usia dini di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, per bulan September 2020 menurun.

Selain terjadi pada anak usia dini, stunting juga terjadi sebelum kelahiran. Hal itu diakibatkan malnutrisi selama perkembangan janin yang disebabkan oleh ibu hamil yang kekurangan gizi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, jumlah presentasi kasus stunting hingga bulan September 2020 berada di 11,69 persen atau 3.868 orang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Parigi Moutong, Asmarafia S.Si, Apt yang ditemui media ini di ruang kerjanya mengatakan, jika merujuk pada data tahun 2017 hingga 2020 saat ini, grafik jumlah kasus stunting di Kabupaten Parigi Moutong terus menurun.

Hal tersebut terlihat pada saat Kabupaten Parigi Moutong ditetapkan sebagai daerah lokus stunting, yang dimana tahun 2017 jumlah angka stunting Kabupaten Parigi Moutong berada di 34,4 persen sedangkan di tahun 2019 berada di 21,4 persen

Lokus stunting di tahun 2017 mencakup 10 Desa di lima Kecamatan, yakni Kecamatan Moutong, Kecamatan Palasa, Kecamatan Tinombo, Kecamatan Tinombo Selatan dan Kecamatan Ampibabo.

“Lokus 10 Desa di tahun 2017 di lima Kecamatan itu yakni Desa Sidole, Desa Tanampedagi, Desa Baina’a, Desa Sinei Tengah, Desa Lobu, Desa Bambasiang, Desa Pebeunang, Desa Dongkalan, Desa Palasa dan Desa Ulatan,” ujar Asmarafia.

Adapun analisis situasi yang dilakukan Dinas Kesehatan yakni pihaknya terlebih dahulu melakukan analisis situasi dari 20 indikator stunting.

Dari 20 indikator tersebut, analisis situasi di tahun 2019 ditetapkan lokus ditahun 2020 sebanyak 47 Desa lokus. Inilah yang kemudian diintervensi secara bersama-sama, baik intervensi spesifik maupun intervensi sensitif.

“Untuk intervensi spesifik itu menjadi tanggung jawab bidang kesehatan, sedangkan intervensi sensitif itu ada di beberapa OPD terkait, seperti Dinas PUPRP, Dinas Pendidikan, Dinas PMD, Dinas Sosial, Dukcapil, dan beberapa OPD lainnya,”terang Asmaravia.

Berdasarkan data dari hasil intervensi bersama, yang menjadi lokus tahun 2019 di 47 Desa persentasenya menunjukan penurunan.

Sebab kata Asmaravia, jika melihat data stunting dari 2017 sebesar 34,4 persen, di tahun 2018 jumlahnya sudah mulai menurun yakni 33,7 persen, di tahun 2019 makin menurun yakni 21,4 persen, dan per 23 September 2020 berada di 11,69 persen.

“Kami berharap, dari semua intervensi yang dilakukan secara bersama-sama jumlah anak kerdil  di Kabupaten Parigi Moutong diharapkan terus menurun,” tutup Asmarafia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *