Menggerakkan Ekonomi Rakyat, Minyak Kelapa Kampung Dari Parigi Moutong Untuk Indonesia

oleh -31 views
Faradiba, penggagas usaha minyak kelapa kampung melatih ibu-ibu rumah tangga membuat minyak kelapa kampung premium (Foto : istimewa)

Liputan : Eli Leu

Beritaplano, Parigi Moutong –  Berkomitmen membangun dan meningkatkan ekonomi rakyat itulah cita-cita dua anak muda dari Kabupaten Parigi Moutong, yang berhasil mengembangkan usaha minyak kelapa kampung premium menjadi bisnis menguntungkan. Tidak hanya menguntungkan untuk mereka, namun menguntungkan untuk ratusan ibu-ibu rumah tangga yang berada di daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil kelapa dalam terbanyak di Sulawesi Tengah, dengan rata-rata produksi mencapai 212.176.000 butir per tahun.

Mereka adalah Faradiba Zaenong (29) dan Fakrudin (44), yang menekuni bisnis tersebut sejak tahun 2019 lalu. Meski terbilang baru namun produk mereka telah mampu menjajal pasar nasional. Bagaimana tidak, sebelum memulai mereka melakukan penelitian lapangan terkait bahan baku dan prospek pasar.

Dalam mengawali bisnis tersebut, dua anak muda yang juga diketahui berprofesi sebagai jurnalis ini, mengaku terinspirasi dari melimpahnya bahan baku kelapa dalam yang ada Kabupaten Parigi Moutong. Ide inilah yang kemudian membuat mereka untuk melahirkan suatu produk minyak kelapa dengan brand premiun tanpa bahan pengawet, sehingga mutu dan kualitasnya terjamin hingga ke tangan konsumen.

Lewat bendera mereka berdua produk minyak kelapa kampung ini berhasil mencetak lapangan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga yang awalnya tidak berpenghasilan menjadi berpenghasilan. Inilah yang mereka sebut ‘menggerakan ekonomi rakyat’ sebagai tujuan dan niat awal usaha ini dibangun. Saat ini mereka memiliki kurang lebih 600 ibu-ibu rumah tangga yang bekerja memproduksi minyak kelapa di Kabupaten Parigi Moutong.

Pembuatan minyak kelapa yang melibatkan ratusan ibu-ibu rumah tangga itu menggunakan sistem pemberdayaan industri rumahan.

Sistem industri rumahan yang dimaksud yakni pembuatan dan pengelolaan minyak kelapa dilakukan secara pribadi atau individu bukan kelompok. Tujuan utama dari sistem ini adalah meningkatkan perputaran ekonomi berbasis rumah tangga.

Selain itu tujuan lainnya dari sistem tersebut agar ibu-ibu dalam menjalani aktivitas pekerjaan yang baru ini tidak harus meninggalkan fitrahnya sebagai ibu rumah tangga.

Menurut ke dua anak muda itu, ibu-ibu yang menggeluti pekerjaan ini tidak harus meninggalkan fitrah sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak, sebab pekerjaan ini di kerjakan di rumah masing-masing.

Di sisi lain, peningkatan ekonomi yang akan terjadi nantinya bukan hanya ada dalam rumah tangga, namun berefek pada perputaran ekonomi desa, kecamatan dan skala kabupaten.

Gagasan inovasi minyak kelapa kampung premium ini hadir dan tersebar disejumlah desa penghasil kelapa terbanyak di Kabupaten Parigi Moutong.

Kata mereka, melimpahnya bahan baku kelapa dalam seharusnya disikapi dengan cara kerja cerdas, sehingga  nilai ekonomi dari bahan baku kelapa tersebut bisa punya nilai jual yang lebih, bukan nilai yang standar atau bahkan nilai ekonominya di bawah rata-rata saja.

Selain itu, pendataan ibu rumah tangga yang melaksanakan program ini difokuskan pada data masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Penjualan produk ini dimulai dari menawarkan secara langsung kepada konsumen, dengan brand premium tanpa bahan pengawet minyak ini mampu mendapat respon yang positif dari para konsumen.

Akses pasar saat ini sudah memasuki pulau Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Bali, dan beberapa daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Meskipun dibanjiri permintaan pasar, mereka tetap fokus dan memprioritaskan mutu serta kualitas produk, disamping itu izin kesehatan dari produk ini pun sudah dirampungkan.

Sejak diluncurkan ke publik untuk dipasarkan, produk ini sudah memproduksi sekitar 15 ton minyak kelapa, yang dikemas dalam dua ukuran, yakni ukuran 500 mililiter, dan ukuran 250 mililiter.

Dalam seminggu, ibu-ibu memproduksi minyak kelapa sebanyak 1 ton atau 1000 liter. Adapun harga jual ukuran 500 mililiter yakni Rp30.000 per botol. Sedangkan ukuran 250 mililiter dengan harga jual Rp15.000 per botol.

Proses pembuatannya pun, cukup sederhana dan tidak membutuhkan peralatan canggih, cukup menggunakan mesin parut, wajan serta tangan-tangan trampil yang kesemuanya dikerjakan kaum perempuan.

Mereka berharap, dari usaha yang digelutinya itu dapat memberikan dampak positif serta sebagai motivasi kepada masyarakat mengembangkan usaha-usaha lain untuk kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *