Malam ini, Dua Band Asal Parimo Tampil di Panggung FPDL Gorontalo

oleh -3 views
Foto bersama dua band asal Parigi Moutong, Lintang Project dan Twenty Four di panggung IBC FPDL, Gorontalo. Foto : Ist

 Reporter : Eli

PLANO, Gorontalo– Malam ini, Senin 23 September 2019, dua band dari Kabupaten Parigi Moutong tampil di panggung Indonesian Band Competition (IBC) rangkaian Festival Pesona Danau Limboto (FPDL), Provinsi Gorontalo. Dua grup musik modern siap manggung itu adalah Lintang Project dan Twenty Four. 

Dalam jadwal, dua gabungan musisi asal Parigi Moutong ini tampil hampir berurutan. Lintang Project sebagai peserta ke 11, sedangkan Twenty Four manggung diurutan ke 17.

Di panggung nanti, Lintang Project membawakan lagu cipta berjudul Pesona Tanah Gorontalo. Lagu tersebut nanti dimainkan secara modern dengan genre rok yang dikolaborasi dengan dua jenis alat musik etnik.

“Penyatuan dua warna musik itu dilakukan karena mengikuti konsep gelarannya, tentang wisata dan budaya,” ujar Manager Lintang Project, Andi Sadam kepada pemedia lewat sambungan selulernya dari Gorontalo, Senin 23 September 2019. 

Andi Sadam menjelaskan, dua alat musik etnik yang dipadukan dengan alat musik modern itu adalah Lalove atau suling tradisional suku Kaili. Satunya lagi jenis Kakula.

“Dua alat musik tradisional itu digunakan agar memunculkan nilai budaya sebagaimana konsep kegiatan tersebut,” katanya. 

Andi Sadam mengungkap, menonjolnya cerita tentang sejarah dan budaya yang dituangkan dalam lirik lagu berjudul Pesona Tanah Gorontalo itu jadi pendukung utama pelibatan warna musik etnik. 

Dalam lirik lagu yang dikarang Suci Sunia Rerung itu, menyinggung beberapa obyek wisata andalan Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. 

“Salah satu jualan dalam lagu cipta itu adalah wisata religi Gorontalo. Adalah Mesjid Walima Emas, yang merupakan salah satu objek kunjungan wisatawan ketika berkunjung ke Gorontalo,” ungkap Andi Sadam.

Nama Danau Limboto yang terletak di Kecamatan Limboto, turut jadi baris pengisi dalam lirik lagu cipta yang diaransemen Lintang Project. 

Tidak hanya itu, warisan leluhur Air Berkah Taluhu Barakati masuk dalam karangan perempuan yang sekaligus vokalis Lintang Project itu.

“Di cerita rakyat, obyek wisata Air Berkah Taluhu Barakati sebagai tempat pemandian Bidadari karena airnya yang sejuk. Bahkan warga memercayai sumber air di sana memiliki berkah dan bisa menyembuhkan penyakit bagi yang meminumnya,” urai Andi Sadam. 

Manager Lintang Project itu berharap, tim Lintang bisa tampil maksimal sesuai yang sudah terkonsep sebelum manggung.

 “Juara bukan jadi tujuan utama Lintang Project. Tampil sempurna di panggung berskala nasional itu yang jadi prioritas kami.Urusan juara alias kalah menang itu bukan urusan kami. Yang paling kami harapkan adalah bisa hadir di pentas FPDL membawa nama Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sekaligus kami juga ingin turut meramaikan giat FPDL serta mempromosikan pesona budaya Gorontalo lewat musik dan lagu,” tambahnya. 

Menyangkut Twenty Four, dalam lagu ciptaan Drummernya, Muhammad Rafli, juga menceritakan tentang pesona wisata Provinsi Gorontalo. Dalam aransemennya, lagu berjudul Pesona Danau Limboto ini dibawa ke aliran musik rok alternative. 

Manager Twenty Four, Arki Arianggara menceritakan, kalau dalam lirik lagu wajib mereka lebih spesifik ke obyek wisata Danau Limboto. Alasannya, menurut Arki, nama Danau Limboto menjadi nama dari kegiatan Pemkab Gorontalo. 

“Sepenggal dalam lirik dari jingle berjudul Pesona Danau Limboto itu adalah tentang kedamaian dan kebahagiaan yang bisa ditemukan dari sugesti alam Danau Limboto,” ucap Arki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *