Kemendikbudristek Perkuat Mutu Dosen Melalui Beasiswa Gelar dan Nongelar

oleh -
Kemendikbudristek Perkuat Mutu Dosen Melalui Beasiswa Gelar dan Nongelar

Berita Pendidikan – Untuk mendorong transformasi perguruan tinggi sekaligus menguatkan semangat Merdeka Belajar-Kampus Merdeka di kalangan dosen, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan banyak program yang dilaksanakan dengan pendanaan dari dana pemerintah maupun dengan dana mandiri. Program-program tersebut diselenggarakan untuk mengakselerasi SDM dosen, salah satunya Program Beasiswa Gelar dan Nongelar bagi SDM Pendidikan Tinggi Akademik dan Vokasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, mengatakan program tersebut antara lain program World Class Professor (WCP), yaitu program yang mengundang profesor kelas dunia dari berbagai perguruan tinggi (PT) ternama dalam negeri/luar negeri sebagai profesor kunjungan untuk ditempatkan di berbagai PT di Indonesia. Kemudian, ada program magang bagi dosen muda ke perusahaan ataupun industri dan program magang bagi tenaga kependidikan (tendik) di PT yang lebih tinggi kualitasnya untuk bisa lebih mengadopsi tata kelola yang lebih baik.

Kemudian ada juga program kemitraan dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan guru. Program ini bisa menjadi solusi atas masalah di kelas sehingga bisa terjembatani sekaligus memperkuat guru di lapangan. Selanjutnya ada program Detasering, yaitu program berbagi dari dosen-dosen perguruan tinggi unggul yang saling berbagi antarperguruan tinggi.

Nizam kemudian menjelaskan lebih detail tentang masing-masing program tersebut. “Untuk program WCP ada sekitar 70 orang pesertanya, program kemitraan dosen dan guru dengan sasaran dosen LPTK sekitar 45 orang, program detasering kira-kira untuk 70 orang, bridging course sekitar 25 orang, program beasiswa S2/S3 bagi dosen dan calon dosen sekitar 1.000 lebih beasiswa S3 di dalam maupun luar negeri, sertifikasi kompetensi untuk kualifikasi kompetensi internasional dalam bidang tertentu ada sekitar 160 orang. Kemudian, program magang dosen di industri ataupun lembaga riset di dalam maupun luar negeri, terdapat sekitar 370-an orang, Scheme for Academic Mobility and Exchange (SAME) untuk menggairahkan kembali (recharging) pengembangan SDM sekitar 20 orang, Post Doctoral sekitar 20 orang, dan Erasmus Mobility sekitar 60 orang,” tutur Nizam dalam acara Sosialisasi Program Beasiswa Gelar dan Nongelar bagi SDM Pendidikan Tinggi Akademik dan Vokasi secara daring, Selasa (11/5).

Ia mengajak peserta sosialisasi yang hadir secara virtual agar segera mendaftarkan diri dalam program-program pendidikan tinggi dari Kemendikbudristek. Untuk program magang dapat mengunjungi laman kompetensi.sumberdaya.kemdikbud.go.id dan untuk program microcredential dapat mengunjungi laman kampusmerdeka.kemdikbud.go.id. Kemudian untuk beasiswa S2/S3 bisa ke laman beasiswa.kemdikbud.go.id.

Berbicara tentang dosen, tutur Nizam, tentu harus melihat institusinya, karena itulah transformasi perguruan tinggi sekaligus implementasi penggunaan APBN untuk pendidikan tinggi dituangkan dalam delapan indikator kinerja utama (IKU).

“Delapan indikator kinerja utama tersebut adalah (1) kepekerjaan lulusan, seberapa banyak lulusan kita itu memasuki dunia kerja, (2) berapa banyak mahasiswa yang mengikuti program minimal 1 semester di luar kampus, (3) dosennya mengikuti kegiatan di luar kampus tetapi terinstitusikan, (4) praktisi mengajar di dalam kampus, (5) hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan dapat rekognisi internasional, (6) program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia, (7) kelas kolaboratif dan partisipatif, dan (8) program studi berstandar internasional,” ujar Nizam.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, mengatakan bahwa program-program yang telah dijelaskan Dirjen Nizam tersebut menawarkan suatu kemerdekaan, keluwesan, dan fleksibilitas dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Menurutnya, tantangan ke depan tidak mudah karena relevansi dan kualitas menjadi taruhan dari program-program tersebut sehingga ketersiapan dari banyak pihak sangat diharapkan.

“Semoga kita bisa segera bersiap diri untuk memanfaatkan ini semua dengan sebaik-baiknya serta dengan akurasi atau konteks substansi yang pas sekali. Artinya, luar negerinya juga luar negeri yang punya visi ke depan, serta kita juga mengharapkan peserta-peserta yang memiliki renjana (passion) untuk membangun pendidikan bangsa ini,” ungkap Wikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.