Hingga Agustus 2020, HIV/AIDS di Parimo Tercatat 22 Kasus, 5 Meninggal Dunia

oleh -
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Parigi Moutong, Wulandari SKM M.AP (Foto : Fara)

Laporan : Faradiba

Beritaplano, Parigi Moutong – Sejak bulan Januari sampai Agustus tahun 2020, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Parigi Moutong menemukan sebanyak 22 kasus baru penderita HIV/AIDS. Tercatat dari 22 kasus, lima diantaranya meninggal dunia.

“Dari 22 kasus tersebut, 14 kasus diantaranya masih di tahap HIV dan delapan kasus sudah di tahap AIDS, dan untuk delapan kasus AIDS lima diantaranya telah meninggal dunia,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Parigi Moutong, Wulandari SKM M.AP yang ditemui media ini diruang kerjanya, Rabu (14/10/2020).

Menurut Wulandari, dari 22 kasus penderita HIV/AIDS ditemukan 16 kasus Laki-Laki dan enam kasus perempuan. Untuk data penyebaran kasus di Parigi Moutong merata, dan rata-rata umur dari penderita berada di umur 25-49 tahun.

Kebanyakan penderita HIV/AIDS ini adalah korban diantaranya ibu rumah tangga.

Wulandari menjelaskan, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Parigi Moutong paling banyak ditemukan bekerja sebagai Ibu rumah tangga. Penularan terhadap Ibu rumah tangga tersebut melalui suaminya yang terlebih dahulu telah positif HIV/AIDS.

“Kebanyakan ibu rumah tangga tidak tahu kalau suaminya di luar rumah suka “jajan”, ya jadi ini yang rentan menjadi korban adalah ibu rumah tangga,” terangnya.

Selain berstatus ibu rumah tangga untuk ODHA perempuan, kasus ODHA laki-laki kami temukan ternyata pekerjaannya sebagai petani.

Akumulatif kasus HIV/AIDS di Parigi Moutong sejak tahun 2006 sampai 2020 tercatat sebanyak 189 kasus penderita.

Penyebaran penyakit itu ditularkan melalui darah, kebanyakan melalui Pengguna jarum suntik (Penasun), dan hubungan seks bebas.

Adapun populasi penyebarannya berasal dari Waria, Penasun, Lapas, Ibu Hamil, penderita TBC, Wanita Pekerja Seks (WPS), dan Lelaki Suka Lelaki (LSL).

“Pengobatan yang dilakukan Pemerintah Daerah Parigi Moutong, untuk semua ODHA wajib mendapatkan pengobatan gratis. Jadi, selama ODHA masih bertahan hidup, maka selama itu pula kewajiban Dinas kesehatan memberikan pelayanan serta pemberian obat secara cuma-cuma,” bebernya.

Untuk pencegahan ODHA dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai elemen.

Ditambahkannya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit HIV/AIDS. Yang pertama, hindari perilaku berisiko, seperti hubungan seksual berisiko atau menggunakan narkoba jarum suntik.

Selanjutnya, bila sudah melakukan perilaku berisiko tersebut, segera lakukan tes HIV, bila tes HIV negatif, lakukan perilaku aman untuk mencegah tertular HIV.

Namun, bila tes HIV positif, jalani hubungan seksual yang aman, menggunakan kondom, serta menghindari penggunaan jarum suntik bergantian adalah pilihan terbaik, serta minum obat ARV sesuai dengan petunjuk dokter agar hidup tetap produktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *