Hasilnya Diekspor Hingga Ke Tiga Negara, Pajak Walet Justru Kecil

oleh -

Reporter : Eli

PLANO, Parigi Moutong- Tahun ini Dinas Pendapatan Daerah mencatat ada sekitar 600 unit bangunan sarang walet di Parigi Moutong. Namun sayang, potensi pendapatan yang seharusnya menjanjikan itu, pada tahun 2019 daerah hanya menerima Rp 25 juta dari peternak walet.

Padahal daerah telah membuat aturan, 10 % hasil penjualan harus disetor ke kas daerah. Pada prakteknya belum seperti apa yang diharapkan.

Ditanya terkait itu, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Yasir mengakui, ada potensi yang sangat besar pada sektor sarang walet. Seharusnya daerah menerima lebih besar dari Rp 25 juta, jika komitmen peternak walet berjalan dengan baik.

“Jadi memang untuk pendapatan sarang burung walet sudah atur dalam Perda tarifnya itu adalah 10% dari harga penjualan. Realisasinya tahun kemarin (2019) itu sekitar Rp 25 Juta. Sehingga kemarin saya masuk kesini dan melihat tenyata kecil pendapatanya, saya turunkan tim untuk mendata ulang ternyata hasil pendataan kita jumlah gedung walet itu sekitar 600 sekianlah belum lagi ada yang masih sementara membangun,” jelasnya.

Dikatakannya, jika bangunan sarang burung walet yang terdata taat pada aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah, maka PAD pada sektor tersebut diyakini bisa meningkat drastis.

“Saya coba turun untuk mengetahui apa sih masalahnya orangnya ini tidak bayar,  dengan berbagai macam alas an, ada yang mengaku terlalu tinggi 10% sehingga memang ada yang tidak mau jujur berapa hasil penjualanya. Kemarin habisa kami turun lapangan, ada yang datang menyetor sekitar Rp 10 juta,” urainya.

Kata Yasir, salah satu yang menjadi kendala Dipenda untuk menggenjot PAD pada sektor walet adalah, sulitnya melacak keberadaan pembeli sarang burung walet. Sehingga pemerintah tidak dapat mengontrol seberapa besar hasil penjualan seluruh sarang burung walet di kabupaten Parigi Moutong setiap tahun.

“Memang agak susah kalau untuk wallet, karena pertama masih sulit melacak pembelinya darimana, siapa, kapan dijual. Makanya kemarin saya sudah ke Kementrian Perdagangan bertanya bagaimana tata niaganya ini, karena Indonesia ini adalah pengekspor walet terbesar untuk ke Cina, Singapore dan Vietnam. Tidak mungkin hasilnya sedikit disini kan?,” kata dia.

Berdasarkan hasil konsultasinya kata dia, Cina adalah negara paling besar menerima impor sarang walet dari Indonesia, setelah Singapur dan Vietnam. Hanya saja, negara tersebut membatasi perusahaan yang masuk.

“Cina saja kemarin itu investasinya sekitar 100-san juta dollar tetapi untuk masuk ke Cina itu sangat ketat, mereka yang menentukan perusahaan mana yang bisa masuk kesana. Saya sudah dapat informasi itu sudah ada sekitar 20 perusahaan yang sudah dapat izin dari pemerintah Cina sebagai eksporter. Bahkan dikabarkan hanrga perkilonya ada tiga ribu dollar artinya kalau kita 14 ribu berarti ada 42 Juta per kilo,” urainya.

Melihat peluang dan proses tata niaga tersebut kata dia, Dispenda akan melakukan pertemuan melalui Kementrian Perdagangan dengan beberapa perusahaan pengekspor, agar mau menampung hasil dari Parigi Moutong. Sehingga proses jual beli bisa transparan dan harga tidak mudah dimainkan oleh pembeli.

“Saya menyurat supaya difasilitasi bisa ketemu dengan investornya itu, supaya bisa saya bawa kesini pembeli. Agar dapat saya pantau kedua-duanya, kalau dia pembeli resmi maksudnya kita punya nilai tambah, tidak ada permainan harga, pemerintah daerah juga punya nilai tambah dan saya bisa pantau berapa jumlah produksi secara keseluruhan di Kabupaten Parigi Moutong,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *