Diikuti Hampir 300 Peserta, Buku Tania Li Tentang Petani Lauje Dibedah Akademisi dan Aktivis Gerakan Sosial

oleh -
Diikuti Hampir 300 Peserta, Buku Tania Li Tentang Petani Lauje Dibedah Akademisi dan Aktivis Gerakan Sosial

Liputan : Eli Leu

Beritaplano, Sulawesi Tengah – Tania Murray Li guru besar Antropologi Universitas Toronto melakukan penelitian etnografi tentang petani Lauje di pegunungan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah dalam rentang  tahun 1990-2009. Tulisan hasil dari kunjungan berulang-ulang selama 20 tahun itu melahirkan sebuah buku yang diberi judul ‘Kisah dari Kebun Terakhir’. Sabtu (19/9/2020) malam kemarin, buku yang mulai ditulis pada 2006 itu dibedah para akademisi dan para aktivis gerakan sosial, dihadiri hampir 300 peserta secara virtual.

Koordinator Prodi Antropologi Dr. Ikhtiar Hatta S,Sos M,Hum saat membuka kegiatan mengatakan, bedah buku ini diinisiasi beberapa lembaga yakni Celebes Institut, Samadhya Institut,  Cara Baca dan Prodi Antropologi Fisip Universitas Tadulako.

“Buku ini telah lama kita nantikan, buku yang sangat menarik ini mengambil wilayah penelitian di Sulteng pada masyarakat Lauje,” ujarnya.

Hadir sebagai pembahas, Ben White Professor Emeritus Institue of Social Den Haag, Suraya Afiff Dosen Antropologi Universitas Indonesia, Arianto Sangaji dari Celebes Institut, Muhammad Ridha dari Cara Baca sekaligus Dosen Sosiologi UINAM, Postdoctoral Fellow Center for Southeast Asian Studies Kyoto University, Aiqra Anugrah.

Tania mengatakan, dirinya menggunakan analisis konjungtur yang spesifik yaitu serangkaian unsur, proses dan relasi yang membentuk kehidupan pada saat dan tempat tertentu dan tantangan-tantangan politik yang timbul.

“Analisis saya bersumber dari penelitian etnografi yang saya lakukan dengan kunjungan berulang-ulang dalam rentang 20 tahun. Pendekatan etnografi memungkinkan saya menyalami sudut pandang penghuni perbukitan dan mengikuti perjuangan sekaligus perdebatannya pada saat kejadian,” tulisnya.

Pantauan media ini, bedah buku yang berlangsung hampir tiga jam itu diikuti peserta dengan antusias. Bagaimana tidak, sebagian besar memberikan pertanyaan dan tanggapan meski tidak semua dapat direspon Tania dan para pembahas karena keterbatasan waktu. Para pembahas memberikan analisis tajam terhadap beberapa bagian penting dari tulisan Tania,  termasuk menguji teori yang digunakan Tania, mempertanyakan beberapa kesimpulan yang mengaitkan privatisasi lahan dengan model kapitalis, juga mengapresiasi kepekaan Tania terhadap pergeseran ‘halus’ yang mampu ditangkapnya dalam kehidupan petani Lauje.

Sementara Ben White Professor Emeritus Institue of Social Den Haag mengatakan, ketika Tania Li melakukan studi ulang dalam jangka waktu yang cukup panjang, itu menjadi alat manjur untuk menerangkan proses perubahan sosial dan agraria di pegunungan orang Lauje. Kata Ben, Tania menggunakan kajian etnografi dengan baik, menggambarkan kehidupan informannya dengan menarik seperti mengajak pembaca ada bersamanya saat itu.

“Dia tidak menonjolkan dirinya sendiri dalam tulisan itu, tidak berfokus pada ‘saya’ itu contoh yang baik untuk tidak menjadi seorang Antropolog narsis,” kata Ben.

Dia berpendapat, buku Tania Li menjadi sebuah teladan penulisan etnografi untuk diikuti generasi baru dan para peneliti agraria.

Dipenghujung kegiatan, banyak peserta yang meminta agar buku-buku seperti hasil penelitian Tania bisa dibedah, untuk menambah kekayaan ilmu pengetahuan Antropologi terhadap isu-isu agraria dan sosial.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *