Menu

Mode Gelap

Nasional · 20 Jun 2023

Budaya Literasi Penting Untuk Hadapi Perkembangan Teknologi


 Budaya Literasi Penting Untuk Hadapi Perkembangan Teknologi Perbesar

Berita Plano_Budaya literasi sangat dibutuhkan untuk menghadapi pesatnya pembangunan dan perkembangan pengetahuan teknologi serta kebudayaan. Literasi berkaitan erat dengan terciptanya masyarakat yang memiliki kemampuan berinovasi dan kreatif, untuk menciptakan suatu produk dalam menghadapi persaingan global.

banner DiDisdik

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan, untuk menyukseskan pembangunan nasional, budaya membaca memiliki peranan penting dan mendasar.

”Memiliki daya membaca bukan hanya punya kemampuan dan minat baca saja. Tapi juga mampu menangkap isi bacaan, menganalisa, memahami intisari serta membandingkan dengan referensi lain. Bahkan memproduksi barang,” ujarnya dalam seminar Internasional mengusung tema “Science Literacy in the Digital Era”, di Auditorium Lantai 2 Perpusnas Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (20/6).

Syarif membeberkan, tujuan membaca adalah untuk menciptakan masyarakat literat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam rencana pembangunan jarak menengah nasional (RPJMN) 2022-2024. Agar bangsa Indonesia mengikuti persaingan ketat di era globalisasi.

“Dengan literasi, bangsa yang miskin sumber daya alam (SDA) mampu menciptakan teknologi, produk maupun layanan jasa. Bisa meningkatkan pendapatan bangsa. Sebaliknya, negara yang kaya dengan alam tapi nggak punya sumber daya manusia (SDM) berkualitas dapat menurunkan income per kapita,” terang Syarif Bando.

banner Dinas Kesehatan

Perpusnas memberikan rumusan literasi ke dalam pengetahuan seseorang terhadap ilmu pengetahuan tertentu, yang diimplementasikan dengan inovasi serta kreativitas tinggi membentuk barang dan saja berkualitas. ”Utamanya dapat dipakai untuk memenangkan persaingan global,” ucap Syarif.

Perpunas membagi lima tingkatan literasi dalam kelompok masyarakat, yang bertujuan menumbuhkembangkan kebudayaan membaca. Pertama, kemampuan baca tulis hitung (calistung) dan pembentukan karakter (sejak usia dini). Kedua, pada tingkat menengah harus punya akses pengetahuan melalui bahan bacaan terjangkau, akurat, terkini dan terpercaya.

”Ketiga, memiliki kemampuan memahami apa yang tersirat daripada tersurat. Keempat, perlu inovasi dan kreativitas untuk antisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelima, memproduksi barang dan jasa berkualitas yang memenangi persaingan global,” tuturnya.

Perpusnas telah meluncurkan 14 juta buku digital, sejak bertransformasi ke dalam bentuk digitalisasi pada Maret 2023. ”Kami juga memproduksi 14 juta konten yang dapat diakses dengan mudah melalui ponsel,” tutup Syarif Bando.

Seminar internasional ini merupakan kerja sama Perpusnas dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Inter-Academy Partnership (IAP), Association of Academies & Societies of Sciences in Asia (AASSA), Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo, dan The Conversation, serta didukung oleh AASSA Special Committee on SHARE (Science, Health, Agriculture, Risk, Environment) Communication.

 

 

 

Sumber:rm.id

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Gempa Yogya Dipicu Aktivitas Subduksi Lempeng Indo-Australia Dan Eurasia

30 Juni 2023 - 19:37

Ratusan Nelayan Pendukung Ganjar Bersih-Bersih Pantai di Banyuwangi

23 Juni 2023 - 19:32

Narasi Keagamaan Yang Keliru Di Medsos Akar Radikalisme

17 Juni 2023 - 20:48

Kemenkominfo Dan TNI Luncurkan Literasi Digital Untuk Prajurit

15 Juni 2023 - 20:59

Generasi Muda Harus Ikut Kampanyekan Perdamaian, Toleransi, Dan Persatuan

14 Juni 2023 - 21:05

Status Pandemi Covid-19 Beralih Ke Endemi Sudah Diputuskan, Tinggal Diumumkan Presiden

13 Juni 2023 - 21:09

Trending di Nasional