Bertemu Belajar Merayakan di Festival Mosintuwu 2019

oleh -3 views

Reporter : Eli

PLANO, Tentena – Festival Mosintuwu perayaan tahunan Institut Mosintuwu menjadi ajang bertemu, belajar dan merayakan ragam budaya, alam dan keanekaragaman hayati Kabupaten Poso. Festival Mosintuwu 2019 ini, diisi dengan berbagai kegiatan menarik yang berlangsung selama tiga hari, dari 31 Oktober – 2 November 2019 di Dodoha Mosintuwu Desa Yosi Kecamatan Pamona Pusalemba.

Festival Mosintuwu kali ini, menampilkan karnaval, pertunjukan seni, berbagi bibit, workshop sosial media, penampilan musik tradisi, video dokumenter, workshop fotografi desa, pemutaran film pulau plastik, lomba moapu, molimbu, demo memasak , temu wicara inovasi untuk perempuan, bertemu pengrajin, pertunjukan rakyat, workshop video advokasi, workshop desa membangun dan konser musik festival dimalam penutup.

Pada hari terakhir, sabtu (2/19) digelar diskusi hasil ekspedisi danau poso yang dipaparkan para tim ahli ekspedisi dari berbagai disiplin ilmu, geologi, arkeologi, antropologi, sosiologi, ahli kajian lingkungan hidup dan aliansi penjaga danau poso.

Lian Gogali dari Institut Mosintuwu, pada sesi pembuka diskusi hasil ekspedisi danau poso mengatakan, ekspedisi ini dimulai dari melihat adanya peristiwa gempa bumi, tsunami, likuifaksi yang terjadi 28 september 2018 yang membawa dampak di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Sigi dan Parigi Moutong.

Sehingga kata dia, institut mosintuwu berinisiatif atas kesadaran bersama masyarakat untuk melakukan pencegahan dengan mencari tahu potensi-potensi bencana alam di Kabupaten Poso. Inisiatif itu kemudian disambut baik oleh para ahli yang merelakan diri tanpa dibayar untuk ikut membantu ekspedisi Danau Poso.

“Bahwa tidak menutup kemungkinan Kabupaten Poso juga memiliki ancaman serupa. Itu setelah kami bertemu dengan tim ekpedisi Palu Koro, kami baru sadar.Dampak bisa minimalisir kalau disadari dari awal, jika tersampaikan dengan baik di masyarakat. Apalagi Poso juga memiliki beberapa patahan,” jelasnya.

Lian mengatakan, awalnya ekspedisi ini direncanakan hanya melihat dari sisi geologi tetapi dalam perjalanan, banyak ahli terkait yang mulai terlibat sehingga dapat diteliti dari berbagai prespektif.

“Kami memulai tidak dengan peta geospasial, tapi kami mulai dari cerita rakyat. Kami mencari cerita rakyat dan menemukan 150 cerita rakyat yang menceritakan peristiwa alam,” ungkapnya.

Kata Lian, untuk melengkapi hasil ekspedisi selain temuan dilapangan, timnya melakukan pengumpulan dokumen tentang Kabupaten Poso, seperti peta tua terbentuknya danau poso, diskusi dengan para ahli, melakukan kajian dokumen dan wawancara dengan masyarakat.

Rara sekar, musisi dan aktivis yang tergabung dalam kelompok musik Banda Neira

Tujuanya adalah hasil dari ekspedisi ini, digunakan sebagai rekomendasi untuk pemerintah dalam menyusun rencana kontigensi agar masyarakat mengetahui dan siap hidup dengan potensi bencana. Juga dapat digunakan untuk menganalisis rencana pembangunan dengan mempertimbangkan kearifan lokal, atau perencanaan yang bersahabat dengan alam.

Pantauan media ini, pada malam penutupan ada konser musik yang diisi beberapa grup band lokal ternama di Sulawesi Tengah, termasuk Rara Sekar musisi dan aktivis yang tergabung dalam kelompok musik Banda Neira membawakan beberapa lagu termasuk satu lagu bahasa Pamona yang dia persembahkan untuk para penjaga Danau Poso yang saat ini tengah melawan pihak perusahaan yang sementara melakukan pengerukan di danau Poso.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *