Adu Kreatif di Festival Pangan Lokal B2SA dan Olahan Ikan Katombo

oleh -4 views

Reporter : Eli Leu

PLANO, Parigi Moutong– Festival pangan lokal Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) dan Festival Olahan Ikan Katombo menjadi salah satu ajang berkreasi dan adu kreativitas mengolah bahan pangan, bagi perwakilan 23 kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong dan kelompok ‘Daster Nelayan’. Festival ini adalah kolaborasi Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), digelar di tepian pantai Kelurahan Loji, senin (11/11/2019).

Pantauan Beritaplano.com, Festival ini juga diisi dengan lomba tari gemar makan ikan yang diikuti ratusan anak Paud dari sejumlah lembaga Paud di Kabupaten Parigi Moutong.

Asisten Perkonomian dan Pembangunan dr Agus Suyono Hadi yang membuka kegiatan mewakili Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu, dalam sambutannya mengatakan, Parigi Moutong memiliki Teluk Tomini sebagai sumber perikanan yang melimpah. Sehingga kata dia, masyarakatnya terutama nelayan atau isteri nelayan harus memiliki keahlian, keterampilan untuk memanfaatkan hasil tangkapan berupa ikan bukan hanya sebagai makanan primer tetapi juga mampu menciptakan  makanan turunan dari olahan ikan.

Kata dia, nelayan yang mampu melihat peluang tersebut mendukung kegiatan ekonomi desa, terus menambah wawasan dan kreativitas untuk mengembangkan dunia bisnis dalam rumah tangganya dan pada akhirnya meningkatkan ekonomi keluarga.

Hal ini harus diupayakan sejak sekarang sebab, jika nanti Ibu Kota Negara Indonesia telah dipindahkan di Kalimantan maka Parigi Moutong harus berupaya memanfaatkan peluang pasar, menjadi pilar pendukung ibu kota yang baru.

“mensuplay makanan dan hortikultura, peluang bisnis akan berpindah di Sulteng, kalau kita mampu menjadi penyangga maka kegiatan seperti ini bisa menjadi pelatihan untuk mempersiapkan diri. Demikian juga proyek ‘Daster Nelayan’, hasil olahan turunan ikan dan pangan akan menjadi keuntungan tersendiri dan bisa menjadi bisnis keluarga,” jelasnya.

Apalagi kata dia, menjelang Hari Panga Sedunia (HPS) yang diupayakan bisa digelar di Kabupaten Parigi Moutong, masyarakat harus terus berkreasi menunjukan jati diri bahwa Parigi Moutong layak menjadi tuan rumah.

“Tetapi tidak ada ketahanan pangan kalau kita tidak menjaga sektor pangan, menjaga tanah untuk penyanggah pangan,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris DP3AP2KB Samsur Latandu juga dalam sambutannya menambahkan, Teluk Tomini yang memiliki sejuta potensi dengan panjang pesisir 472 KM tersebut, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan melatih isteri nelayan mengolah hasil tangkapan ikan katombo menjadi lebih bernilai untuk menunjang ekonomi keluarga.  

“Ragam ikan menjadi sumber nutrisi keluarga, hasil tangkapan yang diolah bertujuan menggali kreativitas isteri nelayan menambah penghasilan keluarga. Isteri nelayan  pintar dan bijak memanfaatkan peluang ini, sebab kreasi makanan menjadi salah satu alternatif  menopang gizi keluarga,” ungkapnya.

Kegiatan ini kata dia, terkonsentrasi melalui Bidang Kualitas Hidup Perempuan dan Kualitas Keluarga dengan melakukan pengembangan dan pembinaan terhadap isteri nelayan dalam peningkatan kualitas keluarga yang responsif gender. Program yang dinamakan ‘Daster Nelayan’ ini, menyasar 200 isteri nelayan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan yang diwakili Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan, Norma menyampaikan, festival pangan lokal B2SA ini merupakan salah satu cara untuk mensosialisasikan, mengedukasi masyarakat mengenai pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman demi mengentasan angka stunting.  Bekerja sama dengan  PKK mengadakan lomba cipta menu B2SA sejak tahun 2011 sampai pada tahun 2019 ini.

Namun lanjut dia, pada tahun 2019 dilakukan perubahan dimana penerapan konsumsi B2SA yang terus dikembangkan diarahkan pada olahan pangan lokal bernilai komersil.  Diharapkan nantinya dapat menumbuhkan kreatifitas dan inovasi menu yang  menarik dengan citarasa dan bernilai gizi tinggi melalui pengembangan bisnis olahan pangan lokal, sehingga ada nilai ekonomi yang diperolah.

Ketua Tim Penggerak PKK Noor Wachida melakukan penilaian pada olahan pangan lokal B2SA dan olahan ikan katombo (Foto : Eli LEu)

Pantauan media ini, tampak hadir sejumlah anggota DPRD, Dr ir Amad Yamin dari Diklat widyaswara Provinsi Sulteng, jajaran pejabat OPD, ketua PKK Kabupaten Parigi Moutong Noor Wachida Prihatini S Tombolotutu dan ketua PKK  23 kecamatan, ketua dharma wanita dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *